MPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1 TORUE

  • Ni Luh Sriasih Mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Tadulako Palu
  • Mutawakkil Mutawakkil FKIP Universitas Tadulako Palu

Abstrak

Rumusan masalah dalam artikel ini adalah (1) Bagaimana implementasi model pembelajaran Think Pair Share padamata pelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Torue?. (2) Bagaimana kendala yang dihadapi oleh guru dalammengimplementasikan model pembelajaran Think Pair Share pada mata pelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 SMANegeri 1 Torue?. Tujuan artikel ini adalah (1) menjelaskan implementasi model pembelajaran Think Pair Share padamata pelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Torue. (2) menjelaskan kendala-kendala yang di hadapi olehguru dalam mengimplementasikan model pembelajaran Think Pair Share pada mata pelajaran sejarah di kelas XI IPS 1SMA Negeri 1 Torue. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalahdengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa implementasimetode Think Pair Share pada mata pelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Torue berjalan dengan baik.Langkah awal dalam implementasi model pembelajaran ini adalah tahap Think (berpikir): memberi sebuahpermasalahan kepada siswa kemudian memberikan beberapa waktu untuk berpikir, langkah selanjutnya adalah tahapPair (berpasangan) : membentuk siswa kedalam kelompok masing-masing terdiri dari dua siswa (teman sebangku),langkah terakhir adalah Share (berbagi) : siswa mempresentasikan hasil diskusi mereka kedepan kelas. Modelpembelajaran Think Pair Share membuat siswa menjadi lebih aktif bertanya dan mengerjakan tugas yang diberikan olehguru, selain itu siswa menjadi lebih percaya diri karena mulai terlatih untuk menjelaskan hasil diskusinya di depankelas. Kendala yang dihadapi guru dalam implementasi model pembelajaran Think Pair Share pada mata pelajaransejarah yaitu (a) Terbatasnya waktu yang menyebabkan guru kesulitan untuk membimbing siswa secara lebihindividual, selain itu waktu untuk presentasi di depan kelas memakan waktu lebih yang lebih lama karena kelompoksiswa terbentuk lebih banyak. (b) Terdapat pasangan yang pasif, hanya satu orang saja yang mengerjakan tugas jadimereka bukan berpasangan dalam memecahkan masalah melainkan menyalin jawaban dari pasangannya. (c) Jumlahsiswa dalam satu kelas yaitu berjumlah ganjil, sehingga tersisa satu orang yang belum memiliki pasangan.

Referensi

Arikunto, Suharsimi. 2006. Metodologi

Pendidikan.Yogyakarta: Bima Aksara.

H. Hamzah B. Uno. 2012. Teori Motivasi Dan

Pengukurannya Analisis Di Bidang

Pendidikan: Jakarta. Bumi Aksara

Moleong L. (2010). Metode Penelitian Kualitatif.

Bandung: Remaja Rosdakarya

Nasution. (1998). Metode Penelitian Naturalistik

Kualitatif. Bandung: Tarsito

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif,

Kualitatif, Dan R&D. Bandung: AlfabetaNi Luh Sriasi & Mutaakkil: Implementasi Model … 321

Scolae: Journal of Pedagogy, Volume 2, Number 2, 2019: 313-321

Sugeng Priyadi. (2012). Metode Penelitian

Pendidikan Sejarah. Yogyakarta: Penerbit

Ombak

Sukardi, 2003. Metodologi penelitian pendidikan

kompetensi dan prakteknya. Jakarta,

penerbit PT bumi aksara

Suryabrata, Sunardi. (1990). Metodologi

Penelitian. Jakarta: Rajawali Press

Sutrisno, Hadi. (1989). Metodologi Research I.

Yogyakarta: Andi.

Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran

Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana

Prenida Media Grouo

Diterbitkan
2019-12-04